Selama ini, kita sering mendengar bahwa hidup itu perlu motivasi. Motivasi membuat kita memiliki tujuan dalam hidup, motivasi memacu kita untuk melakukan sesuatu, dan banyak lagi hal tentang motivasi yang kita dengar dari orang-orang di sekitar kita. Tapi, apakah kita tahu arti dari motivasi? Bila ditanya soal motivasi, kebanyakan orang berpendapat bahwa motivasi adalah suatu hal yang mendorong seseorang atau kelompok untuk mencapai tujuan tertentu. Contohnya, seorang anak rajin menabung karena termotivasi untuk membeli laptop baru, seorang ibu berusaha mendidik anaknya sebaik-baiknya karena termotivasi untuk menjadikan anaknya seorang yang sukses, dan sebagainya. Intinya, motivasi merupakan tujuan kita, dan kita yang termotivasi dengan tujuan tersebut berusaha untuk mencapainya.
Lalu, bila saya sendiri ditanya mengenai motivasi terbesar dalam hidup saya saat ini, jawabannya adalah memenuhi kewajiban. Ketika mengikuti suatu kompetisi, memenangkan kompetisi tersebut bukanlah motivasi saya. Memang bohong bila saya berkata bahwa saya tidak ingin menang, namun motivasi saya hanyalah kewajiban untuk menyelesaikan kompetisi yang saya ikuti. Bila ada pihak yang meminta saya mundur dari kompetisi tersebut, saya akan mundur dengan senang hati, karena dengan permintaan tersebut, berarti kewajiban saya sudah gugur, dan tujuan saya sudah tercapai. Demikian pula dengan apa yang saya lakukan sekarang ini. Apakah motivasi saya untuk berusaha, belajar, dan menjalani kuliah di Fakultas Kedokteran ini sampai lulus? Jawabannya, kewajiban untuk menyelesaikan apa yang telah saya mulai.
Dahulu memang saya memiliki berbagai motivasi. Saat saya masih duduk di bangku kelas 4 SD, saya memiliki motivasi untuk memenangkan olimpiade agar saya dikenal oleh banyak orang. Motivasi yang konyol, memang, mengingat saya saat itu masih berusia 10 tahun. Namun saat saya akhirnya mencapai kemenangan tersebut, kepuasannya hanya sesaat. Memang akhirnya banyak orang yang mengenal saya, namun hal itu malah menjadi menjengkelkan. Saat itulah, saya menyadari bahwa motivasi untuk mencapai kemenangan dalam kompetisi dan menjadi populer adalah motivasi yang tidak sesuai bagi saya.
Kemudian saat duduk di bangku SMP sampai SMA, motivasi saya adalah untuk menjadi yang terbaik di kelas, bahkan di sekolah. Hal ini membuat saya belajar keras, mengikuti bimbingan belajar, bahkan selalu membandingkan nilai dengan teman sekelas. Namun sekali lagi, saat ranking paralel 1 gagal membuat saya diterima tanpa tes di perguruan tinggi, sementara teman saya yang lain diterima, saya mempertanyakan motivasi saya tersebut. Ternyata, motivasi untuk menjadi yang terbaik juga bukanlah motivasi yang cocok bagi saya.
Dua motivasi 'gagal' itulah yang akhirnya mengantarkan saya menuju motivasi yang sekarang. Motivasi untuk mmenuhi kewajiban, menyelesaikan apapun yang sudah saya mulai. Karena saya yakin, bila tujuan saya adalah untuk menyelesaikan kewajiban, hasil yang saya harapkan adalah terselesaikannya kewajiban tersebut, dan itu cukup untuk membuat saya puas. Mungkin banyak orang yang tidak setuju, tapi sekarang, I'm in my comfort zone, I don't want to move, and I'm just trying to finish what I've started.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar