Dalam bahasa Inggris, ada beberapa kata yang merupakan terjemahan dari ‘rumah’. Dua diantaranya adalah ‘house’ dan ‘home’. Namun, walaupun sama-sama memiliki arti ‘rumah’, kedua kata ini memiliki makna yang berbeda. Kita mulai dari kata ‘house’. Kata ini mengacu pada bangunan rumah. Artinya, bila seseorang menyebutkan ‘house’, maka yang dimaksud adalah rumah sebagai bangunan yang konkrit, yang dapat dilihat, yang merupakan suatu benda yang nyata. Alamat, ukuran, banyaknya ruangan, nyaman atau tidaknya secara fisik, dan berbagai fasilitas dalam rumah, itulah yang dimaksud dengan ‘house’.
Kemudian, kita akan membahas mengenai ‘home’. Pengertian rumah yang satu ini lebih abstrak dibandingkan ‘house’. ‘Home’ dapat mengacu pada tempat, situasi, maupun orang, yang memberi kita perasaan yang nyaman, menyenangkan, dan familiar. ‘Home’ adalah hal yang bisa menghilangkan kesedihan kita, memberi kita kegembiraan, dan tidak ingin kita tinggalkan. Satu hal yang perlu diingat, ‘home’ tidak selalu merupakan ‘house’, dan ‘house’ tidak selalu menjadi ‘home’ bagi pemilik atau penghuninya.
Sebagai contoh sederhana, ada seorang anak dari sepasang pengusaha kaya. Karena kekayaan orangtuanya, mereka mampu membangun rumah yang sangat besar dan nyaman untuk ditinggali. Rumah tersebut memiliki halaman yang luas, bangunan yang megah, dan fasilitas yang sangat lengkap. Bisa dibilang, rumah ini adalah sebuah ‘house’ yang sempurna. Namun, ternyata anak tersebut tidak bahagia hanya dengan tinggal di dalam rumah tersebut. Kedua orangtuanya selalu sibuk bekerja, sehingga ia selalu kesepian di rumah. Supaya tidak kesepian, akhirnya ia bergabung dalam suatu forum di internet, dimana ia bisa dengan bebas berkomunikasi dengan orang-orang dari seluruh dunia, berbagi informasi, dan mengomentari banyak hal yang terjadi di dunia. Di forum tersebut, ia merasa nyaman, diperhatikan, dan memiliki teman. Maka bisa dibilang, forum internet itulah ‘home’ baginya.
Cerita di atas menyontohkan orang yang memiliki ‘house’, namun ‘house’ nya bukan merupakan ‘home’ baginya. Ada pula orang yang tidak memiliki ‘house’, namun memiliki ‘home’. Contohnya adalah anak-anak kecil tunawisma yang biasa kita temui mengamen di jalanan. Mereka memang tidak memiliki ‘house’, atau mungkin memilikinya tapi tidak layak. Namun, diantara mereka ada yang memiliki ‘home’. Mereka yang masih cukup muda masih merasakan kegembiraan bekerja dan bermain bersama teman-temannya dan kegembiraan bila mendapatkan uang, lalu bisa menikmati makanan, untung-untung membeli mainan untuk digunakan bersama-sama. Itulah ‘home’ bagi mereka.
Ada juga orang-orang yang beruntung, yang ‘house’ nya merupakan ‘home’ baginya. Orang-orang ini memiliki keluarga yang hangat dan menyenangkan serta kehidupan yang nyaman dan menggembirakan di dalam rumah. Orang-orang ini bila membuka pintu rumahnya, lalu berkata “Aku pulang”, memang itulah yang dikatakan oleh hatinya. Mereka adalah orang yang paling bahagia di dunia, karena mereka memiliki tempat yang nyata, tempat yang sebenarnya untuk ‘Pulang’.
Kesimpulannya, tidak semua ‘house’ merupakan ‘home’, namun, terkadang ‘home’ bisa dimiliki tampa memiliki ‘house’. Akhirnya, kita kembali pada pertanyaan awal: Is your house your home?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar